Limbah Bambu Disulap Menjadi Jam Tangan Yang Bernilai

Buatan Adang Muhidin yaitu Indonesian Bamboo Community (IBC) terkenal karena produksi alat musik bambu yang terbuat dari bambu. Untuk mengurangi limbah bambu dari sisa hasil produksi, mereka mengubahnya menjadi sebuah jam tangan beserta dusnya.

Menggunakan brand yang sama dengan produk alat musik yaitu Virage Awie, jam tangan bambu ini sudah meluncur dipertengahan tahun lalu. Tak butuh waktu yang lama, jam tangan Virage Awie pun laris manis diserbu konsumen.

Hafid Fadilah selaku Wakil Ketua Indonesian Bamboo Community (IBC) mengatakan, selain dari pasar lokal, produk baru “jam tangan bamboo” ini banyak dipesan oleh para konsumen dari Brazil, Rumania, dan negara – negara ASEAN.

Limbah Bambu Jadi Jam Tangan Bambu

Karena dibuatnya secara manual, kapasitas untuk jumlah produksi jam tangan bambu ini sangat terbatas. Disetiap bulannya hanya dapat memproduksi sekitar 30 sampai 40 unit saja. Untuk ketersediaan bahan bakunya pun hanya menggunakan sisa sisa bambu yang ada di lingkungan workshop saja.

Terdapat dua jenis model jam tangan bambu yaitu jam tangan full bambu (tali jam tangan terbuat dari potongan bambu) dan jam tangan bambu yang menggunakan tali kulit. Harga mulai dijual dari Rp 400.000 hingga Rp 700.000 per unit.

“Masalah yang didapati lebih banyak dibagian produksi sebab untuk produksi satu jam tangan dibutuhkan ketelitian dan ukuran yang pas untuk menciptakan hasil dan detail sempurna,” ungkapnya.

Limbah Bambu Disulap Menjadi Jam Tangan

Saat ini, jam tangan bambu ini baru diproduksi oleh anggota IBC yang berada di wilayah Cimahi dan cabang kabupaten Bandung, Kecamatan Ciparai. Asal tahu saja, IBC telah mempunyai cabang dibeberapa wilayah diluar jawa seperti Lampung, Jambi, Bangka, dan Kutai. Tidak hanya itu, mereka juga bisa menyulap limbah bambu ini menjadi produk kerajinan bamboo lainnya, seperti penyangga ponsel, mainan anak, casing dan lainnya.

Harapan jangka panjang dari IBC adalah dapat mempunyai museum hidup dengan menanam beberapa jenis tanaman bambu. Alasannya adalah sampai hari ini mereka masih harus membeli bambu dari distributor. Jenis bambu yang sudah banyak digunakan yaitu bambu gombong dan bamboo petung.

Selain dari produk produk kerajinan kreatif, IBC juga telah memberikan pembinaan kepada anak-anak yang sedang putus sekolah berupa sebuah keahlian dalam membuat alat musik dan kerajinan tangan lainnya yang berasal dari bambu. Dengan pelatihan yang rutin, mereka mulai pandai dalam membantu proses produksi.

Baca Juga : Mendulang Rupiah Dari Arang Bambu

Tidak cukup sampai disitu, mereka juga sering dilibatkan pada elemen musik. Mereka sering diajarkan bagaimana cara bermain musik dengan baik dan benar dan juga tidak jarang sering tampil dalam acara internal ataupun acara eksternal.

Hafid mengaku aksi ini diterapkan agar dapat membantu anak-anak yang putus sekolah supaya mempunyai kehidupan yang lebih layak serta memberikan kegiatan yang positif, sehingga jauh dari kehidupan jalanan. Aksi yang demikian tidak hanya dilakukan untuk IBC Bogor, Cimahi, Jawa Barat saja tetapi juga seringkali diterapkan diseluruh cabang IBC didaerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *