Bermodal Rp 6 juta, Sekarang Yully Memasarkan Lampu Hingga ke Eropa

Berawal dari kendala biaya hingga harus berhenti kuliah di Modern School of Design (MSD), Yogyakarta, Yully Widianto mencoba peruntungan dengan mencoba di dunia bisnis. Dari kebiasaannya dan hobinya suka mendesign, akhirnya Yully menjalankan bisnis usahanya seni interior yaitu produksi dekorasi lampu untuk di dalam ruangan ataupun di luar ruangan yang dihasilkan unik oleh bisnisnya Dhowo Art.

Pria ini juga membuat produk interior lainnya seperti kursi, meja dan cermin. Untuk bahan bakunya dari alam, seperti kayu jati , rotan dan bambu. Produk alam seperti biji aren atau kayu manis dan lain-lain yang ia gunakan sebagai aksesori untuk memperindah hasil produksinya.

Lampstand adalah Dekorasi lampu yang ia produksi, lampstand ini sarat dengan kreatifitas dan ide-ide desain yang unik. Kegemarannya pada bidang seni membuat pria ini bisa bebas menuangkan ide kreatifitasnya dalam hasil produksi kerajinannya. Lampu ini tidak bercorak atau berbentuk seperti lampu pada umumnya, akan tetapi memiliki ukuran, bentuk, dan warna cahaya yang sedikit agak berbeda pada umumnya.

Itu sebabnya, produk kerajinannya diminati oleh banyak kalangan perusahaan, seperti kafe, restoran, hotel dan apartemen sebagai penerangan serta dekorasi kamar. Rata-rata Pemesanan dari banyak perusahaan mencapai 300 sampai 500 unit per bulannya. Selain itu pula , produk ini dilirik oleh banyak konsumen dari luar negeri.

Yully Widianto Usaha Pengrajin Lampu
Yully Widianto Usaha Pengrajin Lampu

Yully pun mengaku telah berhasil mengirim hasil produksinya ke beberapa negara di Eropa , Asia, dan Timur Tengah. “Rata-rata pembeli untukpemesanan dari luar negeri, produksi sekitar 200 samapai 600 unit dengan gabungan produksi UKM teman-teman lainnya”, kata Yully.

Untuk memenuhi suatu permintaan yang datang, Yully membuka dua showroom di daerah Yogyakarta. Yaitu di Nitikan, Umbul Harjo, Yogyakarta daerah ini khusus untuk produksi. Sementara tempat lainnya di daerah Jl Gejayan, Yogyakarta, tempat ini digunakan sebagai pameran dan melayani suatu pembelian. Kedua Showroom tersebut dilengkapi dengan gudang sebagai tempat menyimpan persediaan barang dan memenuhi pembelian dalam jumlah yang besar.

Dengan bantuan delapan orang pekerja, ia mampu menghasilkan lampstand 300 sampai 500 unit per bulannya . Jika tidak ada pemesanan, biasanya Yully membuat dua unit lampu lampstand dengan model yang sama sebagai persediaan untuk dipamerkan di showroom.

Harga jual ke konsumen Rp 150.000 s/d Rp 1,5 juta per unit, tergantung pada bahan baku dan ukuran dan tingkat kesulitan dalam memproduksi barang. Tidak mengherankan jika Yully dapat meraup omzet hingga Rp 100 juta per bulan dari Usaha kerajinan ini.

Seperti bisnis lain, bisnis yang dia tekuni dari tahun 1998 sering mengalami pasang surut dalam perjalanannya. Supaya produk mereka tetap bernilai di pasar, produk Yully inovatif mengkombinasikan dari model lawas dengan model terbaru yang sedang tren dalam produk dari hasil kerajinannya. Sebagai ajang promosi dia dengan gencar mengikuti setiap ada pameran kerajinan.

Modal Rp 6 juta
Di antara keluarga yang mencintai seni Yully pun tumbuh disana. Oleh karena itu, sejak kecil ia telah tertarik dalam bidang ini, terutama lukisan. Setelah selesai sekolah Yully pun sering berkunjungi ke toko buku dan gemar membaca buku design seni interior. Dia juga suka melihat gambar di Internet tentang seni interior rumah.

Tidak puas dengan membaca, ia menerapkan hobinya di bidang seni dalam bentuk lukisan. Darah seni yang mengalir ke dia, menyebabkan dia untuk memperdalam pengetahuan tentang pendidikan seni di Modern School of Design (MSD), Yogyakarta.

Yully pernah memiliki galeri di dekat rumahnya. Dia juga pernah menjual sebuah lukisan di jaket kulit dijual pada tahun 1996 untuk 1997 di Malioboro, Yogyakarta. Dari sanalah ia memiliki ide untuk berpartisipasi dalam sebuah pameran seni di beberapa tempat.

Pameran seni untuk pertama kalinya adalah di Ancol tahun 1997 hingga tahun 1998. Dari pameran itu dia mempunyai ide tentang interior rumah dengan desain kreatif dan unik. Yully mencoba untuk membuat dekorasi lampu dengan bahan baku dari alam.

Dengan modal Lukisan dijual hasil di Malioboro, tabungan serta pinjaman uang dari perusahaan milik negara [BUMN] dalam jumlah Rp 6.000.000, ia pun bertekad untuk membangun barang dekorasi rumah di daerah Yogyakarta. Bahan baku yang ia gunakan terus berkembang mengikuti perkembangan waktu. Bahan dekorasi lampu seperti pasir,kayu jati, bubuk batu, bambu, pasir besi, rotan,kayu manis, ia pernah membuatnya sampai bahan baku kerang

Sekaligus dia menciptakan benda seperti kursi, meja, cermin dan lampu perumahan, seorang pria yang memiliki dua anak ini pun aktif di beberapa pameran pemerintah kota setempat.

Sebagai pengrajin dan pengusaha di bidang interior rumah, Yully pun bercerita bahwa produk buatannya sempat ditawarkan ke galeri di Jakarta pernah ditolak. Dia juga pernah mendapatkan konsumen yang kurang kooperatif. “banyak galeri gelari yang sulit untuk melakukan pembayaran sehingga pemasukan agak tertunda,” katanya.

Tetapi secara bertahap produksinya mulai dilirik oleh pangsa pasar. Bermulai dari keikutsertaannya dalam pameran kerajinan yang dibuat oleh Pemerintah Dubai, Yully berkesempatan untuk memamerkan hasil produksinya kepada mereka para pembeli asing.

Tanggapan dari pelanggan dari Timur Tengah ternyata cukup bagus. Produknya diminati dan mulai dikenal. Yully juga mengikuti pameran lainnya di luar negeri. Itulah yang menjadi jalan baginya untuk memasarkan produknya di luar negeri.

Gunawan

Untuk melangkah maju lihatlah ke depan jangan tengok ke arah belakang. Usaha yang sukses adalah bercermin dari kegagalan masa lalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *